Momentum Menggaungkan Kembali ”Sport Tourism” Indonesia – kompas.id

Meredanya pandemi menjadi momentum untuk kembali pengembangan ”sport tourism” di Indonesia. Pemerintah daerah perlu menjajaki beragam jenis wisata olahraga demi pemulihan ekonomi dan pariwisata daerah.
Panorama pantai menjadi suguhan utama pemandangan yang dinikmati peserta balap sepeda Cycling de Jabar 2022, seperti saat melintas di salah satu pantai di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu (28/8/2022). Cycling de Jabar digelar salah satunya untuk mempromosikan potensi baik pariwisata, ekonomi, kesenian, maupun kebudayaan di wilayah pesisir Jabar selatan.
Beragam acara pariwisata olahraga mulai diselenggarakan kembali setelah vakum akibat pandemi. Disertai dengan tingginya antusiasme masyarakat untuk berwisata menjadi momentum yang baik untuk kembali menggaungkan sport tourism pada tahun ini. Hal ini turut mendorong akselerasi pemulihan pariwisata dan ekonomi Indonesia.
Seiring membaiknya situasi pandemi tahun ini, berbagai event olahraga yang sempat vakum selama dua tahun pandemi kembali diselenggarakan. Kegiatan wisata olahraga yang merupakan kombinasi antara aktivitas olahraga dan atraksi pariwisata juga mulai dibuka untuk masyarakat umum. Hal ini menjadi angin segar bagi penyelenggara dan masyarakat yang rindu berekreasi sekaligus berolahraga massal.
Antusiasme dan partisipasi masyarakat terlihat dalam sejumlah acara wisata olahraga di beberapa daerah. Belum lama ini ajang balap sepeda Cycling de Jabar 2022 digelar Pemerintah Provinsi Jabar, BJB, dan harian Kompas. Rute yang dilalui meliputi lima wilayah Jabar selatan, yakni Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran. Kegiatan yang digelar pada 27-28 Agustus 2022 ini berakhir di Alun-alun Paamprokan, Pangandaran, dengan total jarak tempuh 319 kilometer.
Sebelunya juga ada acara Bank Jateng Friendship Runing di Semarang yang sudah diselenggarakan pada Minggu (21/8/2022) misalnya. Sebanyak 1.000 peserta lari nomor 5 kilometer ramai memeriahkan sekitar kawasan Tugu Muda-Lawang Sewu hari itu. Tidak hanya itu saja, mini pasar harmoni yang berisi UMKM binaan Bank Jateng juga menyemarakkan agenda pertama rangkaian acara Borobudur Marathon (Bomar) tersebut. Puncak event ini nantinya dihelat pada November di kawasan Candi Borobudur dengan menggelar lomba lari ”Tilik Candi” yang melibatkan lebih dari 5.000 peserta dari sejumlah daerah.
Meriahnya event tersebut hanyalah sebagian gambaran dari semarak wisata olahraga yang mulai menunjukkan kebangkitannya. Hal ini sejalan dengan mulai pulihnya sektor pariwisata setelah terpuruk selama dua tahun pandemi.
Membaiknya kondisi sektor pariwisata itu ditandai dengan meningkatnya jumlah wisatawan. Selama Januari-Juni 2022, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 871.650 orang. Artinya, dalam sebulan rata-rata wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia mencapai 145.275 orang. Jumlah kunjungan ini sedikit mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah kedatangan turis asing mencapai 713.315 orang atau rata-rata 121.886 turis per bulan.
Di lingkup nasional, meski tidak ada data resmi, geliat berwisata para pelancong lokal mulai terlihat dari ramainya destinasi wisata serta meningkatnya okupansi penginapan di beberapa daerah. Antusiasme wisatawan ini menjadi peluang yang baik untuk menyelenggarakan berbagai event wisata, seperti salah satunya sport tourism.
Kendati wisata olahraga merupakan kombinasi antara pariwisata dan aktivitas olahraga, maka faktor kebiasaan berolahraga di masyarakat juga turut menentukan. Dari sisi ini, terbuka peluang besar untuk menjaring potensi animo masyarakat. Minat berolahraga masyarakat saat pandemi cenderung meningkat karena adanya imbauan untuk meningkatkan imunitas dengan berolahraga. Apa pun bentuk olahraganya, aktivitas menyehatkan ini menjadi kebiasaan baru yang kini dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia.
Baca juga: Corak Baru Wisata Mandalika dari MotoGP 2022
Survei LIPI pada awal Desember 2020 menyebutkan, satu dari lima orang yang sebelumnya tidak berolahraga memulai kebiasaan berolahraga saat pandemi. Selain itu, hampir separuh responden meningkatkan durasi dan menambah jenis olahraga yang dilakukan.
Dua faktor tersebut menunjukkan tersedianya target pasar untuk pengembangan wisata olahraga di Indonesia. Selain itu, destinasi wisata yang menjadi ajang event olahraga tersebut juga turut mendorong tingginya animo peserta untuk ikut serta. Keindahan alam dan ragam budaya yang tersedia secara unik di masing-masing daerah menjadi modal penting untuk menarik minat kunjungan wisata dengan berbalut kegiatan olahraga. Dengan event ini, maka secara tidak langsung turut memperkenalkan berbagai potensi daerah berikut atraksi-atraksi budaya kepada semua peserta baik dari dalam negeri maupun turis mancanegara.
Pariwisata olahraga
Di Indonesia, wisata olahraga sejatinya sudah dikembangkan sejak lama. Ada dua jenis sport tourism yang diselenggarakan di Indonesia, yaitu hard tourism dan soft sport tourism. Hard tourism berupa acara perlombaan bersifat regular, seperti Asian Games atau Sea Games. Sementara soft sport tourism biasanya berupa olahraga yang umum dilakukan masyarakat atau olahraga spesifik di luar ajang multisport, seperti maraton, fun run, sepeda, hingga berselancar.
Beberapa di antaranya sudah mendapat panggung di kancah internasional dan menjadi bagian dari perlombaan yang dinantikan. Pada jenis olahraga bersepeda, misalnya, Indonesia sudah memiliki sejumlah perlombaan kelas internasional.
Tour de Java pada 1958 menjadi embrio lomba balap sepeda jalan raya yang mengawali semarak balap sepeda di Indonesia. Ajang yang kemudian berganti nama menjadi Tour d’Indonesia ini pada 2004 diakui oleh UCI (Persatuan Balap Sepeda Internasional) serta mendapat level 2.1 UCI atau level tertinggi di Indonesia.
Keindahan Danau Singkarak bisa dinikmati para pebalap pada etape II Tour de Singkarak 2017. Di sepanjang jalur Danau Singkarak ini, para pebalap cenderung melaju dengan relatif santai dan mulai memacu kencang sepedanya selepas meninggalkan danau kebanggaan Sumatera Barat itu.
Baca juga: Peluang Mengembangkan ”Sport Tourism”
Selain itu, terdapat Tour de Singkarak (TdS) yang sudah mendapat level 2.2 UCI. Tour de Singkarak ini menjadi salah satu ajang wisata olahraga yang berhasil menjadi daya tarik atlet dan wisatawan mancanegara. Terbukti jumlah penonton acara ini menduduki peringkat kelima dunia setelah ajang balap sepeda serupa seperti Tour de France (Perancis), Giro d’Italia (Italia), Vuelta a Espana (Spanyol), dan Santos Tour Down Under (Adelaide, Australia).
Sesuai namanya, TdS diselenggarakan di daerah sekitar Danau Singkarak yang merupakan danau terbesar di Sumatera Barat. Berawal pada 2009, jalur lintasan balap sepeda ini hanya melewati empat kota/kabupaten di Sumatera Barat. Selanjutnya, pada penyelenggaraan terakhir di 2019 sebelum pandemi, jumlah kota/kabupaten yang dilintasi mencapai 17 daerah, termasuk daerah Kerinci dan Sungai Penuh di Jambi.
Meluasnya jalur lintasan ini menjadi bagian dari pengembangan acara sekaligus banyaknya kabupaten/kota yang ingin berpartisipasi lantaran ajang ini dinilai berhasil. Tidak hanya jalur lintasan, berkembangnya TdS juga diikuti oleh semakin banyaknya negara asal peserta. Pada 2009, hanya tim dari 11 negara saja yang berpartisipasi. Namun, pada 2019, terdapat 24 negara yang ikut serta pada kejuaraan itu.
Selain balap sepeda, Indonesia juga memiliki kejuaraan lari dan maraton yang melibatkan kekayaan alam serta kebudayaan lokalnya, seperti Borobudur Marathon. Kejuaraan ini pertama kali diselenggarakan pada 1990 di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Sempat timbul tenggelam selama beberapa tahun, tetapi mulai 2012 kejuaraan ini menjadi agenda rutin setiap tahunnya.
Hingga tahun 2016, jumlah peserta mencapai lebih dari 18.000 orang yang berasal dari 17 negara. Ajang lari yang terdiri dari nomor lomba lari 5K, 10K, Setengah Marathon (21K), dan Marathon (42,195K) ini terus bertambah. Pada Bomar 2019, sebelum pandemi, terdapat lebih dari 10.000 peserta dari 35 negara yang berpartisipasi.
Dampak kegiatan
Tingginya partisipasi dan minat terhadap sejumlah wisata olahraga di Indonesia itu sangat berdampak positif terhadap pariwisata dan perekonomian masyarakat. Wisata olahraga memang diselenggarakan untuk turut mempromosikan potensi pariwisata daerah. Cara ini berhasil meningkatkan popularitas destinasi wisata dan potensi daerah tempat kegiatan perlombaan diadakan.
Seperti penyelenggaraan Tour de Singkarak yang dinilai memberikan efek positif bagi Provinsi Sumatera Barat. Sejak awal direncanakan, jalur lintasan memang disesuaikan dengan destinasi wisata daerah itu. Dengan hadirnya pebalap kelas internasional dan peliputan media lokal hingga mancanegara yang masif, mendorong potensi daerah bersangkutan berhasil diperkenalkan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyebutkan bahwa hadirnya TdS itu berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara. Jumlah kunjungan wisatawan setidaknya meningkat 25-27 persen menyusul pelaksanaan TdS.
Meriahnya ajang olahraga juga memberikan keuntungan bagi UMKM dan komunitas masyarakat yang berpartisipasi memeriahkan acara. Salah satunya pada ajang Bomar. Hasil Survei Litbang Kompas pada penyelenggaraan Borobudur Marathon 2018 menyebutkan, 53 persen dari 110 pelaku UMKM mengalami peningkatan pendapatan selama event berlangsung.
Ribuan peserta dilepas di titik start Borobudur Marathon 2019 di kawasan Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (17/11/2019). Pergelaran lomba maraton yang ketujuh ini diikuti 10.900 peserta dari sejumlah negara.
Baca juga: Borobudur Marathon Terus Berinovasi
Acara tersebut juga berdampak merata pada berbagai kelas akomodasi. Pada 2019, survei terhadap 100 pelaku usaha menemukan dampak ekonomi terhadap usaha akomodasi mencapai Rp 1,7 miliar.
Keberhasilan dua agenda wisata olahraga tersebut hanya sebagian kecil dari berbagai potensi wisata olahraga yang dimiliki Indonesia. Secara nasional, menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, potensi pertumbuhan sport tourism Indonesia bisa mencapai Rp 18,790 triliun hingga tahun 2024.
Membaiknya situasi pandemi tahun ini patut menjadi momentum untuk mengawali kembali pengembangan sport tourism di Indonesia. Setidaknya antusiasme dan minat masyarakat dan wisatawan untuk berwisata dan berolahraga sedang tinggi-tingginya. Apalagi, menurut data BPS, sport tourism sudah menjadi tujuan wisata bagi 3,71 wisatawan lokal pada 2020. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk menggaungkan wisata olahraga yang sempat terhenti karena pandemi.
Maka, tepat sekali jika pemerintah daerah dan penyelenggara acara mulai membuka beragam jenis wisata olahraga baru. Besar harapannya upaya ini dapat mengakselerasi pemulihan pariwisata dan perekonomian daerah pascapandemi. Keberhasilan Tour de Singkarak dan Borobudur Marathon menjadi inspirasi bahwa sport tourism yang melibatkan potensi wisata, kebudayaan, dan komunitas masyarakat lokal dikemas secara baik dan profesional akan memberikan dampak positif kepada daerah serta masyarakat. (LITBANG KOMPAS)

source