Banyak yang Pensiun di Usia 25 Tahun, Atlet E-Sport Sering Lupakan Pendidikan – iNews.id

YOGYAKARTA, iNews.id-Tak dapat dipungkiri jika perkembangan e-sports di Indonesia sangat cepat dan mengalami perubahan yang signifikan. Hal tersebut membuat eksistensi dan potensi industri ini semakin besar dan ramai diperbincangkan terutama oleh generasi milenial.
Bukan tanpa sebab, talenta-talenta e-sports yang terbukti dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia datang dari generasi muda penerus bangsa yang masih duduk di bangku sekolah dan perkuliahan. Inilah yang membuat e-sports sangat melekat erat dengan insutri pendidikan.
Operator Resmi Pengurus Besar E-sport Indonesia, Garudaku mengingatkan ada hal yang terkadang dilupakan oleh para atlet e-sport yaitu terkait pendidikan. Karena seperti diketahui generasi e-sport Indonesia itu masih sangat toxic. Di mana seringkali mereka melupakan pendidikan
“Itu yang sekarang menjadi konsen kami,” kata Ketua Garudaku, Robertus Aditya Pratomo, Kamis (22/12/2022) di UGM.
Dia mengatakan usia atlet e-sport ada antara 13 hingga 34 tahun. Di mana usia tersebut sering dikatakan sebagai usia produktif. Para atlet e-sport akan pensiun di usia 25 tahun dan akan kehilangan dalam tahapan produktif.
Seringkali atlet e-sport melupakan pendidikan mereka. Karena terlalu asyik dalam permainan e-sport ini mereka terkadang enggan melanjutkan pendidikan yang sebelumnya mereka tempuh, hingga hilang kesempatan untuk sekolah atau kuliah.
“Karena itu akademi e-sport Garudaku konsen untuk pembelajaran. Kami menggandeng beberapa pihak termasuk Moonton Games kemudian memberikan beasiswa para atlet kompetisi e-sport nasional,” ujar dia.
Setidaknya ada 2.800 sekolah terlibat dalam program beasiswa tersebut. Mereka mendorong agar atlet-atlet e-sport tetap melanjutkan pendidikan mereka. Karena akan banyak profesi yang bisa mereka dapatkan dari e-sport tersebut.
Garudaku adalah satu-satunya lembaga yang berhak mengeluarkan sertifikasi e-sport untuk wasit pelatih dan pemain. Nanti para atlet e-sport bisa mendapatkan sertifikasi sesuai dengan kemampuan mereka yang tentunya bisa digunakan untuk profesi mereka.
“Kita contohkan saat ini Indonesia itu kekurangan wasit berkemampuan Bahasa Inggris. Dan kita akan meningkatkan kemampuan atlet agar bisa menjadi wasit dengan keahlian berbahasa Inggris,”ujar dia.

Editor : Ainun Najib
Follow Berita iNewsYogya di Google News

Bagikan Artikel:

BERITA TERKAIT
KOMENTAR

source